“Komitmen Pak Menteri dan seluruh jajaran luar biasa, keberhasilan ini tidak lepas dari keseriusan beliau, mulai dari penyiapan anggaran hingga pengawasan langsung ke lapangan. Tahapan berikutnya, untuk kategori rusak berat dan hilang semoga bisa cepat juga, itu sedang kita koordinasikan,” katanya.
Meski rehabilitasi tahap awal telah selesai, Mahyeldi mengingatkan bahwa ancaman baru mulai muncul, yakni potensi musim kering dan dampak El Nino yang diperkirakan terjadi pada akhir Juni hingga Juli mendatang.
Menurutnya, percepatan masa tanam menjadi langkah penting untuk mengantisipasi gangguan produksi pangan akibat musim kemarau.
“Kemarin Pak Sekjen menekankan kepada kami agar segera melakukan pemetaan dan langkah antisipasi menghadapi musim kering atau El Nino. Penanaman harus dipercepat supaya panen tidak terganggu dan stok pangan tetap aman,” ujarnya.
Selain ancaman El Nino, Pemprov Sumbar juga masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang akibat bencana hidrometeorologi.
Mahyeldi mengungkapkan terdapat sekitar 7.000 hektare lahan terdampak berat di Sumbar. Dari jumlah tersebut, lebih dari 4.000 hektare lahan disebut hilang akibat berubah menjadi aliran sungai atau tergerus longsor.
“Sebahagian dari lahan yang hilang itu, sekarang berubah menjadi sungai, ada juga yang benar-benar tergerus akibat lonsor. Karena itu, penanganannya perlu melibatkan lintas kementerian, tidak bisa hanya Kementerian Pertanian, tapi juga perlu melibatkan Kementerian PU dan kementerian lain. Inilah yang menjadi tatangan kita saat ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan seluruh data kerugian dan rencana rehabilitasi pascabencana telah dimasukkan ke dalam dokumen R3P atau Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana yang telah diserahkan ke pemerintah pusat melalui BNPB.