Fajar Rillah Vesky menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dampaknya tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah memengaruhi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dalam skala luas.
“Khusus longsor di Situjuah Ladang Laweh, harus segera ditangani. Karena, akses jalan satu-satunya untuk keluar-masuk nagari ini, tak hanya amblas membentuk lubang mirip sinkhole. Tapi ditimbun material longsor. Sebanyak, 600 KK dengan total 2.000 jiwa warga terisolasi,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah daerah tidak ragu menetapkan status tanggap darurat bencana apabila kondisi terus memburuk dan kemampuan operasional penanganan di lapangan terbatas.
Menurutnya, penetapan status tanggap darurat penting untuk membuka ruang penggunaan dana tak terduga dalam APBD 2026 serta mempercepat mobilisasi bantuan dari berbagai pihak.
“Jika dampak bencana ini meluas dan dana operasional petugas penanganan bencana terbatas, pemda jangan ragu menetapkan status tanggap darurat bencana,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah nagari dan kecamatan saat ini masih melakukan pendataan terhadap kerusakan infrastruktur, kerugian pertanian, serta jumlah warga terdampak akibat banjir, longsor, dan tanah amblas tersebut.
“Pemerintah nagar terdampak bencana, tentu sedang mendata kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana ini. Laporan dari nagari dan camat, harus jadi perhatian serius pemda,” katanya.