Dakwah Bernuansa Budaya Minang, Ini Kisah Hidup Buya Ristawardi dari Buruh hingga Dai Sumbar

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 12 Maret 2026 | 10:09 WIB
Buya Ristawardi (Foto: Kominfo Agam)
Buya Ristawardi (Foto: Kominfo Agam)




Mengabdi 35 Tahun





Perjalanan kariernya di PT Semen Padang terus berkembang. Ia kemudian dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Urusan Konseling Rohani. Selama 35 tahun mengabdi di perusahaan tersebut, ia tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi penguat spiritual bagi para pekerja.





Di tengah dinamika industri yang penuh tantangan, pembinaan rohani menjadi salah satu sarana penting untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan di lingkungan kerja. Perusahaan juga memberikan berbagai dukungan terhadap kegiatan keagamaan, mulai dari pembinaan rohani hingga pelatihan mubaligh.





Menjadi Kader Mubaligh





Perjalanan dakwah Buya Ristawardi semakin berkembang ketika pada 1982 ia resmi mengikuti pelatihan dan menjadi kader mubaligh melalui program Dewan Masjid. Setahun kemudian, namanya mulai dikenal di berbagai daerah. Pada 1986, ia telah aktif memberikan ceramah di Bukittinggi dan sejumlah wilayah lainnya di Sumatera Barat.





Sejak saat itu, aktivitas dakwahnya terus berkembang. Dari mimbar masjid hingga berbagai kegiatan keagamaan, ia terus menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat.





Dakwah Bernuansa Budaya Minangkabau





Buya Ristawardi lahir di Baso, Bukittinggi, pada 10 Juni 1952. Ia tumbuh dalam lingkungan budaya Minangkabau yang kuat.
Sebagai tokoh adat, ia juga menyandang gelar Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh. Gelar tersebut menunjukkan posisinya sebagai sosok yang dihormati di tengah kaumnya.





Dalam ceramahnya, ia kerap memadukan ayat Al-Qur’an dan hadis dengan petatah petitih Minang. Pendekatan ini membuat dakwah terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia juga sering menggunakan filosofi karambia atau kelapa sebagai simbol keteguhan hidup dan kemanfaatan bagi sesama.





Selain itu, falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” selalu menjadi landasan utama dalam setiap pesan dakwah yang ia sampaikan. Pendekatan kultural tersebut membuat ceramahnya mudah diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari generasi tua hingga anak muda yang kini menyimaknya melalui media sosial.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X