Dakwah Bernuansa Budaya Minang, Ini Kisah Hidup Buya Ristawardi dari Buruh hingga Dai Sumbar

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 12 Maret 2026 | 10:09 WIB
Buya Ristawardi (Foto: Kominfo Agam)
Buya Ristawardi (Foto: Kominfo Agam)


Sumbardaily.com – Bulan Ramadan sering kali menghadirkan kisah-kisah inspiratif tentang perjalanan hidup seseorang yang ditempa oleh kerja keras, ketulusan, dan keimanan. Di tengah masyarakat Sumatera Barat (Sumbar), salah satu kisah yang kerap menjadi perbincangan adalah perjalanan hidup seorang mubaligh yang kini dikenal luas, yakni Buya Ristawardi.





Sosok bernama lengkap Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh itu dikenal sebagai penceramah dengan gaya dakwah yang khas. Ceramahnya tidak hanya berisi pesan agama, tetapi juga diselipi humor ringan, kisah kehidupan, serta petatah petitih Minang yang membuat pesan dakwah terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.





Belakangan, ceramah-ceramahnya juga kerap muncul di berbagai platform media sosial. Potongan dakwahnya bahkan sering masuk dalam halaman rekomendasi atau for your page (FYP), sehingga semakin memperluas jangkauan dakwahnya kepada generasi muda.





Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan dakwah Buya Ristawardi dimulai dari kehidupan yang jauh dari panggung ceramah. Sebelum dikenal sebagai mubaligh, ia pernah menjalani pekerjaan berat sebagai buruh di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang.





Peluh di Pelabuhan Teluk Bayur





Perjalanan hidup tersebut dimulai pada 1974, ketika Ristawardi muda bekerja sebagai buruh angkat semen di pelabuhan. Saat itu, ia harus memindahkan karung-karung semen hasil produksi PT Semen Padang dari lori menuju gudang sebelum dimuat ke kapal untuk dikirim ke berbagai daerah.





Pekerjaan itu dijalani dengan jam kerja sekitar delapan jam setiap hari. Aktivitas tersebut menuntut tenaga fisik yang kuat serta ketahanan tubuh yang tinggi. Dalam salah satu kesempatan, ia pernah mengenang masa-masa berat tersebut. Setelah bekerja seharian memanggul karung semen, tubuhnya sering kali terasa kaku karena kelelahan.





“Kalau sudah selesai bekerja, badan rasanya kaku. Dipanggil orang tak bisa menoleh, harus memutar seluruh badan,” kenangnya suatu ketika.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X