Dimulai dengan salat Ashar berjamaah, dilanjutkan dengan kajian adat, buka puasa bersama, penyerahan bantuan untuk anak yatim dan duafa, salat Isya dan tarawih berjamaah, hingga kembali berlanjut dengan sesi kajian dan tanya jawab hingga larut malam.
"Alhamdulillah, kegiatan ini berhasil dilaksanakan dengan baik. Acara diikuti oleh peserta dengan sangat antusias, mulai dari salat Ashar berjamaah, hingga dihadiri pejabat dari Pemprov Sumbar, juga dihadiri oleh Sekretaris Perusahaan (Sekper) Bank Nagari, Tasman beserta jajaran pimpinan cabang Bank Nagari di Jakarta dan juga oleh Bupati Solok serta tokoh masyarakat Minang yang ada di Jakarta," papar Braditi.
Antusiasme masyarakat mengikuti kajian adat terbukti dari durasi acara yang melebihi jadwal semula.
"Tanpa disangka, kajian yang harusnya selesai setelah Ashar, ternyata para peserta menginginkan kajian lanjutan, sehingga setelah berbuka puasa ada penyerahan simbolis bantuan untuk anak yatim dan duafa berupa santunan, salat Isya dan tarawih. Peserta masyarakat IKM melanjutkan kajian hingga pukul 23.00 WIB, termasuk sesi tanya jawab," ungkap Moulevey.
Kajian adat ini mengangkat tema "Peran Mamak di Rantau", yang membahas tentang bagaimana peran seorang paman dari garis keturunan ibu dalam struktur keluarga Minangkabau, khususnya dalam konteks masyarakat Minang yang merantau.
Namun, diskusi berkembang pada persoalan-persoalan yang lebih spesifik, terutama terkait tanah ulayat dan tanah pusako.
"Banyak persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat kita, seperti tanah ulayat atau tanah pusako. Ini yang menjadi fokus malam itu, bagaimana hampir seluruh masalah yang timbul dari para perantau Minang ini tentang banyaknya atau adanya tanah ulayat dan pusako mereka itu yang di kampung sekarang ditempati oleh orang luar, karena banyaknya saudara mereka yang di rantau, tidak ada keluarga yang di kampung," kata Braditi Moulevey.
Fenomena rumah gadang yang kosong dan tidak berpenghuni menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam kajian tersebut.