“Hal itu menyebabkan petani tidak seluruhnya bisa memperoleh pupuk buatan lagi. Padahal biasanya petani kita senang dengan pupuk buatan karena bisa langsung bereaksi ketika diberikan ke tanah,” kata Herviyanti.
Di sisi lain, penggunaan pupuk buatan tanpa diiringi dengan pemberian bahan organik akan menyebabkan rusaknya fisik tanah serta mengurangi jenis dan jumlah makro dan mikroorganisme di dalam tanah.
Jika digunakan secara terus menerus kesuburan tanah menjadi menurun. Karakteristik kimia tanah juga menjadi tidak baik.
Menyikapi kondisi tersebut, lanjut Herviyanti, Tim Dosen Unand telah melakukan sosialisasi dan membuat demplot pemanfaatan amelioran organik berbasis sumber daya lokal untuk substitusi pupuk buatan pada lahan petani melalui Kelompok Tani Baramban di Nagari Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka penelitian dan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan setiap tahun untuk membantu usaha kelompok tani berkembang.
Menurut Herviyanti, selain bisa meningkatkan kesuburan tanah secara fisik, kimia, maupun biologi, sangat disarankan untuk memanfaatkan amelioran organik untuk subtitusi buatan ini karena ketersediaannya melimpah.
Baca Juga:
Ada Operasi Pasar di Padang Jelang Nataru 2023, Ini Lokasinya
Selain itu, dengan pemanfaatan amelioran organik berbasis sumber daya lokal ini bisa membuat pertumbuhan tanaman menjadi baik serta aman dikonsumsi dan nantinya bisa menghasilkan produk sayuran sehat.