Masyarakat harus mendapatkan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar. Dan kawasan rawan harus mendapatkan patroli lebih awal.
Sumatera Barat memiliki modal penting untuk itu: data, teknologi penginderaan jauh, jaringan pemerintahan hingga tingkat nagari, perguruan tinggi, masyarakat lokal dan lembaga penanggulangan bencana. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan semuanya dalam satu sistem.
Karhutla tidak harus menjadi siklus tahunan yang selalu kita tunggu dengan mobil pemadam dan kepulan asap.
Kita bisa memutus siklus tersebut dengan membaca data lebih awal, mengenali wilayah rawan, mengubah praktik pengelolaan lahan dan memperkuat masyarakat. Sebab pada akhirnya, api terbaik adalah api yang tidak pernah terjadi.
(*)