- Integrasikan karhutla ke dalam tata ruang
Wilayah dengan risiko karhutla tinggi harus menjadi pertimbangan dalam pengembangan kawasan. Perencanaan permukiman, perkebunan, pertanian dan infrastruktur perlu mempertimbangkan risiko kebakaran, akses pemadaman serta ketersediaan sumber air.
Jangan hanya menghitung api yang sudah dipadamkan
Ada perubahan cara berpikir yang harus dilakukan. Keberhasilan penanganan karhutla selama ini sering terlihat dari jumlah kebakaran yang berhasil dipadamkan.
Padahal indikator yang lebih penting adalah: Berapa kebakaran yang berhasil dicegah? Berapa luas lahan yang tidak jadi terbakar? Berapa masyarakat yang telah beralih dari pembukaan lahan dengan pembakaran? Berapa hotspot yang berhasil diverifikasi sebelum berkembang menjadi kebakaran besar? Dan berapa waktu yang dibutuhkan sejak hotspot terdeteksi sampai petugas tiba di lokasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa penanganan karhutla dari pendekatan reaktif menuju pendekatan preventif.
Sumbar membutuhkan strategi “sebelum api”
Karhutla bukan semata persoalan kehutanan. Ia merupakan persoalan lingkungan, tata ruang, pertanian, kebencanaan, ekonomi dan perilaku manusia. Karena itu, solusinya juga harus lintas sektor.
Data satelit harus terhubung dengan BPBD. Informasi cuaca harus terhubung dengan pemerintah daerah. Pemerintah nagari harus mendapatkan informasi risiko.