Sebagian besar persoalan karhutla tidak berhenti pada persoalan cuaca. Pembukaan lahan, pembersihan kebun, pembakaran sampah, pembakaran sisa vegetasi dan berbagai aktivitas masyarakat dapat menjadi sumber api.
Dalam kondisi basah, api mungkin cepat padam. Tetapi dalam kondisi kering, api dapat menjalar melalui vegetasi yang mengering. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat merupakan bagian penting dari mitigasi karhutla.
Pemerintah tidak cukup hanya mengatakan “jangan membakar”. Masyarakat juga membutuhkan alternatif teknologi dan metode pengelolaan lahan tanpa bakar, pendampingan, peralatan pengolahan biomassa dan insentif yang membuat praktik tanpa bakar lebih mudah dilakukan.
Tata Ruang Ikut Menentukan Risiko
Karhutla juga merupakan persoalan tata ruang. Wilayah yang memiliki vegetasi mudah terbakar, akses manusia tinggi dan berdekatan dengan jaringan jalan atau permukiman memiliki karakter risiko yang berbeda dengan kawasan hutan yang sulit dijangkau.
Karena itu, peta kerawanan karhutla idealnya tidak hanya menggunakan data kejadian kebakaran.
Peta tersebut perlu menggabungkan data tutupan dan penggunaan lahan, hotspot, curah hujan, suhu, kelembapan vegetasi, kemiringan lereng, elevasi, jaringan jalan, jarak dari permukiman, kawasan perkebunan, kawasan hutan serta riwayat kejadian karhutla.