Secara epistemologis, hal ini menunjukkan keterbatasan cara hukum dan institusi memahami realitas kejahatan. Laporan formal atau bukti hukum sering kali tidak mampu menangkap luka batin dan kekerasan psikis yang terjadi di ruang sosial kampus.
Banyak korban kemudian memilih untuk diam karena takut tidak dipercaya, takut dicap lemah, atau takut reputasinya hancur. Oleh karena itu, dalam melihat fenomena seperti ini, sudah sepatutnya kita memperluas sudut pandang. Kebenaran tidak hanya lahir dari data semata, tetapi juga dapat didapatkan dari pengalaman korban.
Viktimologi: Mengembalikan Suara yang Hilang
Dalam perspektif ilmu tentang korban kejahatan (viktimologi), korban bukan sekadar objek penderita, tetapi juga subjek yang memiliki hak untuk diakui, didengar, dan dipulihkan.
Di lingkungan pendidikan, korban perundungan sering kali tidak mendapatkan ruang aman. Mereka bukan hanya menderita karena pelaku, tetapi juga karena lingkungan yang abai. Ketika institusi menutup mata, ketika rekan-rekan sesama mahasiswa memilih diam, maka terbentuklah apa yang disebut victim precipitation, yakni situasi di mana sistem sosial ikut berperan memperpanjang penderitaan korban.
Pendekatan viktimologi menuntut kita untuk tidak hanya mencari siapa pelaku, tetapi juga memahami bagaimana perspektif korban, serta bagaimana struktur sosial memperkuat posisi lemah mereka.
Lebih jauh, pendekatan ini menegaskan pentingnya keadilan restoratif dalam dunia pendidikan — bukan hanya menghukum, tetapi juga memulihkan. Mahasiswa yang terluka butuh tempat untuk kembali merasa aman, didengar, dan dihargai.
Bunuh Diri dan Anomie Sosial
Sosiolog Émile Durkheim pernah menulis bahwa bunuh diri bukan hanya persoalan individu, melainkan juga cermin dari kondisi sosial. Ia menyebut konsep anomie sebagai keadaan ketika norma sosial melemah dan individu kehilangan arah moral maupun rasa keterikatan.
Banyak mahasiswa hidup dalam tekanan luar biasa — beban akademik yang berat, persaingan tanpa henti, dan ekspektasi sosial yang menekan. Dalam kondisi seperti itu, mereka bisa merasa sendirian bahkan di tengah keramaian.