Kegiatan yang dilakukan meliputi patroli, pemeriksaan hotspot di lapangan, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan lahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan.
Rangkaian tindakan tersebut diperlukan untuk memastikan api tidak kembali menyala setelah pemadaman awal dilakukan. Penanganan secara berkelanjutan menjadi perhatian khusus ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut.
Pada kebakaran gambut, api yang tidak lagi terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran telah sepenuhnya padam. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan terus menjalar tanpa terlihat secara langsung.
Karena itu, petugas perlu melanjutkan pembasahan dan pendinginan sampai lokasi dinilai aman dari potensi penyalaan kembali. Pemeriksaan berulang juga dibutuhkan untuk memastikan tidak ada bara yang masih aktif di area terdampak.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari operasi pengendalian karhutla, terutama ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya peningkatan hotspot di sejumlah wilayah.
Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Perlu Diwaspadai
Selain menangani titik panas dan kebakaran, pemerintah juga memantau kondisi kualitas udara di berbagai daerah. Berdasarkan pemantauan berbasis PM2,5, sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang.
Meski demikian, kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat masih terlihat di sejumlah lokasi di Sumatera dan Kalimantan serta beberapa wilayah lainnya. Bahkan, terdapat lokasi yang mengalami kondisi udara berbahaya secara lokal.