Dalam pemaparannya, Dr. Harfiandri Damanhuri menjelaskan penelitian tersebut menggambarkan lokasi pendaratan dan peneluran penyu serta ancaman yang muncul seiring berkembangnya kegiatan wisata bahari.
Wilayah penelitian diarahkan pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Daerah tersebut memiliki sekitar 99 pulau dan berhadapan langsung dengan perairan Samudra Hindia.
"Data yang digunakan dalam penelitian merupakan bagian dari hasil pengamatan dan penelitian konservasi penyu di perairan Sumatera Barat yang telah dihimpun secara berkelanjutan selama hampir dua dekade. Untuk penelitian tahun 2026, kajian secara khusus diarahkan pada gugusan pulau-pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai kawasan yang memiliki karakteristik ekologis penting sekaligus menghadapi perkembangan aktivitas wisata," jelasnya.
Lamanya proses pengumpulan data menjadi salah satu bagian penting dalam riset tersebut. Penelitian konservasi penyu yang dilakukan Dr. Harfiandri Damanhuri telah berlangsung hampir 20 tahun. Dalam seminar tersebut, salah satu dosen UiTM kemudian menanyakan bagaimana jejaring penelitian dibangun dan sumber pendanaan diperoleh agar penelitian konservasi penyu dapat terus berjalan.
Pertanyaan tersebut berkaitan dengan keberlangsungan riset yang telah dilakukan sejak 1999. Menjawab hal itu, Dr. Harfiandri menjelaskan bahwa penelitian dikembangkan melalui penyusunan road map penelitian jangka panjang.
Kolaborasi juga dilakukan bersama sejumlah dosen dan peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta. Selain tenaga pengajar dan peneliti, mahasiswa program sarjana serta magister dilibatkan dalam berbagai tahapan penelitian.
"Keberlanjutan riset tersebut didukung oleh berbagai sumber pendanaan, mulai dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, lembaga riset, program hibah penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bung Hatta, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sponsor, hingga berbagai mitra lainnya," sebutnya.
Jejak penelitian Dr. Harfiandri terhadap penyu bahkan telah dimulai jauh sebelum kajian di Mentawai. Riset tersebut dirintis pada 1999 dengan lokasi awal penelitian di Pulau Penyu, Kabupaten Pesisir Selatan.