Seiring waktu, cakupan penelitian berkembang ke sejumlah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Kajian juga menyentuh komunitas masyarakat pesisir yang memiliki hubungan dengan pemanfaatan maupun eksploitasi telur dan daging penyu.
Rangkaian penelitian itu tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Hasil riset kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk hilirisasi yang memberikan dampak bagi masyarakat. Salah satunya ditandai dengan terbentuknya Pusat Konservasi Penyu di Pulau Karabak Ketek, Kabupaten Pesisir Selatan.
Pengembangan pusat konservasi juga dilakukan di Kota Pariaman melalui Pusat Konservasi Penyu. Program tersebut berjalan melalui kerja sama dan dukungan pemerintah daerah di masing-masing wilayah.
Di Kota Pariaman, salah satu hasil hilirisasi penelitian terlihat dari pengembangan UPT Konservasi Penyu Kota Pariaman yang berada di Desa Apar. Kawasan tersebut kemudian berkembang sebagai bagian dari atraksi wisata edukasi sekaligus konservasi.
Kawasan konservasi penyu di Desa Apar tercatat telah didatangi wisatawan internasional dari lebih dari 85 negara. Keberadaan kawasan tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi sekitar 200 pelaku UMKM di wilayah sekitarnya.
Pengembangan konservasi penyu turut memberikan dampak pada aspek sosial dan lingkungan. Upaya tersebut mendorong peningkatan kesadaran mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Dampaknya antara lain terlihat dari bertambahnya kawasan ekosistem mangrove serta pengembangan taman terumbu karang di pulau-pulau kecil yang berada di dalam kawasan konservasi laut Kota Pariaman.