berita

UNP Paparkan Temuan Riset, UMKM Sumbar Masih Hadapi Kesenjangan Infrastruktur Digital

Senin, 27 Juli 2026 | 21:07 WIB
Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Digital dan Ketahanan Sosial Pasca Pandemi: Studi Komparatif Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia dan Asia Tenggara” yang digelar di Hotel UNP. (Foto: UNP)




"Berdasarkan penelitian, kesenjangan infrastruktur masih terlihat jelas, di mana wilayah perkotaan memiliki fasilitas lebih memadai dengan skor 3,95 dibanding pedesaan yang memperoleh skor 3,48. Keterbatasan perangkat juga menjadi kendala karena 52,5 persen responden hanya mengandalkan ponsel pintar, sehingga produktivitas masih lebih rendah dibanding pengguna laptop. Selain itu, pelatihan pemasaran digital berbahasa Inggris masih minim dengan skor 3,18 sehingga menghambat daya saing UMKM di pasar global," demikian keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis, Minggu (26/7/2026).





Sementara itu, Fungsional Pengembangan Kewirausahaan Ahli Madya Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat, Ir. Rina Morita, M.Si., menilai kemampuan UMKM dalam beradaptasi terhadap teknologi akan sangat menentukan pertumbuhan ekonomi daerah.





Ia menyebutkan, Sumatera Barat saat ini memiliki 740.347 unit UMKM. Dari jumlah tersebut sekitar 99,73 persen merupakan usaha mikro, sehingga peningkatan kapasitas pelaku usaha menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.





"Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus menggerakkan berbagai program pemberdayaan, seperti penumbuhan wirausaha baru, pelatihan kewirausahaan, fasilitasi akses pembiayaan, sertifikasi halal, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pemasaran. Selain itu, hadir pula Klinik UMKM Minang Bangkit yang berfungsi sebagai pusat konsultasi bagi pelaku usaha terdampak bencana, khususnya dalam aspek pembiayaan, pemasaran, dan pemulihan produksi," terangnya.





FGD tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Sumatera Barat. Sebanyak 30 pelaku UMKM Kabupaten Lima Puluh Kota hadir sebagai representasi kawasan sub-urban, kemudian 30 pelaku UMKM Kota Payakumbuh mewakili wilayah urban, serta 30 pelaku UMKM Kabupaten Agam yang merepresentasikan kawasan rural. Selain itu, kegiatan juga diikuti oleh 10 pengelola BUMNag.





Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya menerima paparan hasil penelitian, tetapi juga mengikuti diskusi yang membahas berbagai pengalaman dan tantangan transformasi digital sesuai karakteristik masing-masing wilayah.





Riset kolaboratif ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusinya mencakup SDG 8 melalui penguatan produktivitas dan daya saing UMKM, SDG 9 melalui percepatan transformasi digital dan inovasi pelaku usaha, SDG 10 dengan mendorong pemerataan akses digital serta pemberdayaan kelompok rentan, dan SDG 17 melalui penguatan kemitraan antarlembaga. (*)


Halaman:

Tags

Terkini