Proses pembangunan dilakukan secara bertahap. Seluruh tahapan dikerjakan dengan semangat gotong royong umat Hindu, didukung berbagai elemen masyarakat serta mendapat bantuan dari TNI Angkatan Udara.
"Pada tahap awal, bangunan pura masih sangat sederhana dan didominasi penggunaan ornamen kayu. Meski demikian, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan rumah ibadah tersebut," ujar Ketut Budaraga.
Dua tahun setelah proses perintisan dimulai, Pura Jagatnatha Padang akhirnya diresmikan pada 1998. Berdasarkan prasasti peresmian, peresmian dilakukan oleh Letkol Chaerudin Ray yang saat itu menjabat sebagai Komandan Lanud Tabing.
Seiring berjalannya waktu, kawasan pura terus mengalami pengembangan. Kompleks tersebut kini dilengkapi bangunan utama untuk persembahyangan, pasraman sebagai pusat pendidikan keagamaan Hindu, serta rumah tinggal bagi Pinandita.
Keberadaan Pura Jagatnatha tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah. Sejak diresmikan, pura tersebut menjadi pusat pembinaan umat Hindu di Sumatera Barat dengan berbagai kegiatan keagamaan yang berlangsung secara rutin.
Beragam agenda keagamaan digelar di pura ini, mulai dari persembahyangan Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati, Siwaratri, Nyepi hingga berbagai upacara keagamaan Hindu lainnya.
Selain menjadi pusat aktivitas keagamaan, Pura Jagatnatha juga menjalankan fungsi pendidikan melalui kegiatan pasraman. Program tersebut ditujukan sebagai wadah pembinaan karakter sekaligus pendidikan agama Hindu, terutama bagi generasi muda.
Menurut Ketut Budaraga, keberadaan pura memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian ajaran Hindu sekaligus memperkuat nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Sumatera Barat.