Summbardaily.com - Perkembangan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera menunjukkan kondisi yang beragam. Sumatera Selatan mencatat penurunan dari 107 menjadi 60 titik, sementara Jambi turun menjadi satu titik dan Riau tidak mencatat hotspot. Meski demikian, ancaman karhutla belum berakhir karena peningkatan titik panas masih terjadi di sejumlah wilayah lain.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat pemantauan dan pengendalian karhutla melalui patroli, pemeriksaan langsung di lapangan, serta operasi darat dan udara. Perkembangan terbaru menunjukkan jumlah hotspot nasional justru meningkat, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan, termasuk di wilayah Sumatera.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 21.00 WIB, terdapat 793 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Indonesia. Data tersebut bersumber dari pengamatan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Jumlah itu bertambah 356 titik dibandingkan pemantauan Jumat (9/10/2026), yang mencatat 437 hotspot. Kenaikan secara nasional tersebut memperlihatkan bahwa kondisi karhutla masih dinamis dan membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menegaskan pentingnya deteksi dini, verifikasi lapangan, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi perkembangan karhutla.
"Perkembangan hotspot dari hari ke hari menunjukkan bahwa kondisi karhutla bersifat dinamis. Penurunan pada satu wilayah dapat terjadi bersamaan dengan peningkatan pada wilayah lain," demikian keterangan Kemenhut yang dikutip secara resmi pada Senin (12/10/2026).
Hotspot Sumatera Selatan Turun, Riau Nihil
Dalam pemantauan di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Sumatera Selatan mencatat 60 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Angka tersebut turun dari 107 titik pada hari sebelumnya atau berkurang 47 titik.