Menurutnya, kekuatan Sulam Kapalo Samek tidak hanya berada pada keindahan motif dan teknik pengerjaannya. Di balik setiap hasil sulaman terdapat pengetahuan serta keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, membawa Sulam Kapalo Samek ke panggung internasional juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya Padang Pariaman.
“Keikutsertaan Sulam Kapalo Samek di Belgia bukan hanya tentang memperkenalkan sebuah produk, tetapi juga membawa identitas dan budaya Padang Pariaman ke dunia internasional. Kami berharap momentum ini membuka semakin banyak peluang bagi para perajin dan pelaku UMKM untuk berkembang,” ujarnya dikutip resmi Selasa (6/10/2026).
Sulam Kapalo Samek Masuk Dunia Fesyen
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam keikutsertaan Sulam Kapalo Samek pada ICWB 2026 adalah pengembangan desain melalui kolaborasi dengan Itang Yunaz.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa sulaman tradisional tidak harus terbatas pada bentuk pemanfaatan yang selama ini dikenal masyarakat. Sulam Kapalo Samek dapat dikembangkan ke dalam berbagai rancangan busana dengan tetap membawa karakter khasnya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah model baju kurung dengan sentuhan Sulam Kapalo Samek diperkenalkan. Masing-masing memiliki desain yang beragam untuk menyesuaikan dengan karakter serta selera pasar.
Identitas khas sulaman Padang Pariaman tetap menjadi bagian dari rancangan tersebut. Pada saat yang sama, penerapannya dibuat lebih adaptif terhadap perkembangan fesyen kontemporer.