Kondisi ini membuat Sumatera Selatan berada di posisi teratas di antara enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla. Lima provinsi lainnya yakni Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Jambi.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan Kalimantan Tengah mencatat 96 hotspot, turun cukup jauh dari 355 titik. Riau memiliki 32 titik setelah sebelumnya tidak terdeteksi hotspot high confidence.
Kemudian Kalimantan Barat mencatat 26 titik, turun dari 246 titik. Kalimantan Selatan memiliki 18 titik, berkurang dari 42 titik. Sementara Jambi mencatat 3 hotspot setelah sebelumnya nihil.
Jika digabungkan, enam provinsi prioritas tersebut mencatat 429 hotspot high confidence. Jumlah itu turun dari 726 titik pada pemantauan sehari sebelumnya.
Penanggung jawab berita, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi, menyebut penurunan secara nasional merupakan perkembangan positif. Namun, kondisi setiap wilayah tetap perlu dilihat secara terpisah karena pergerakan hotspot tidak seragam.
"Penurunan nasional menjadi perkembangan yang positif, namun dinamika antarwilayah tetap berbeda. Sumatera Selatan saat ini menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, sementara penurunan cukup signifikan terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat," kata Ristianto Pribadi, dikutip dari Kementerian Kehutanan Senin (5/10/2026).
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa angka hotspot tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Karena itu, satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas yang terdeteksi.