“Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama terjadinya inflasi M-to-M di Sumatera Barat. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,77 persen dan memberikan andil sebesar 0,59 persen dengan komoditas utamanya adalah cabai merah, daging ayam ras, beras dan ikan cakalang/sisik,” dikutip dari BPS Sumbar.
Seluruh wilayah cakupan IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi secara month to month. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang dan Kota Bukittinggi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 1,11 persen. Selanjutnya Kabupaten Dharmasraya sebesar 1,03 persen, Kota Bukittinggi 0,98 persen dan Kota Padang 0,33 persen.
Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran juga mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yaitu sebesar 1,38 persen.
Sementara itu, seluruh wilayah cakupan IHK mengalami inflasi Y-on-Y. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,42 persen.
Inflasi tahunan Kota Padang menjadi yang terendah dengan angka 3,33 persen. Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi 3,56 persen, sedangkan Kota Bukittinggi tercatat 3,43 persen.
Rangkaian data tersebut menunjukkan perubahan aktivitas Sumatera Barat dari sisi transportasi, arus barang, perdagangan luar negeri hingga harga konsumen. Pada Agustus 2026, penerbangan internasional meningkat, sementara penumpang domestik dan kereta api mengalami penurunan pada sisi tertentu.
Di sisi lain, angkutan barang melalui kereta api meningkat 49,80 persen secara month to month. Arus barang yang dibongkar melalui angkutan laut juga naik 4,70 persen.