Adib mengingat kembali bahwa prosesi pengambilan api pernah dilakukan pada 2018. Tradisi tersebut kemudian kembali dilaksanakan dalam rangkaian PORPROV Sumatera Barat.
"Kalau kita ingat kembali, prosesi pengambilan api ini pernah dilaksanakan pada tahun 2018. Artinya, kegiatan ini telah menjadi bagian dari perjalanan olahraga Sumatera Barat," ujar Adib Alfikri.
Menurut Adib, Pariangan dipilih karena memiliki posisi penting dari sisi sejarah dan budaya Sumatera Barat.
"Pariangan adalah kawasan yang bersejarah di Sumatera Barat. Karena itu, pengambilan api dari Pariangan merupakan bentuk penghormatan terhadap asal-usul dan tradisi yang ada di daerah ini," katanya.
Api obor yang kemudian dibawa dalam kirab juga dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan kekayaan budaya Sumatera Barat. Nilai tersebut diharapkan tetap terjaga seiring berlangsungnya rangkaian PORPROV XVI.
"Api obor ini merupakan simbol kebersamaan dan kekayaan budaya Sumatera Barat yang harus terus kita lestarikan," katanya.
Selain melambangkan kebersamaan, Api PORPROV dimaknai sebagai semangat yang tidak padam. Api tersebut merepresentasikan daya juang, sportivitas, serta energi positif bagi insan olahraga di Sumatera Barat.
Usai prosesi pengambilan, Api PORPROV tidak langsung menuju Kota Padang. Api tersebut terlebih dahulu dibawa oleh petugas kirab menuju Kabupaten Padang Pariaman untuk diinapkan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Padang.