Hamdi menyebut terdapat sekitar 22.000 hektare LP2B di Pesisir Selatan. Lahan tersebut dinilai menjadi salah satu kekuatan daerah dalam mempertahankan produksi pangan dalam jangka panjang.
“Kita memiliki sekitar 22 ribu hektare LP2B. Lahan ini tentu harus kita jaga karena menjadi salah satu kekuatan untuk mempertahankan produksi pangan ke depan,” ucapnya.
Penguatan sektor pertanian tersebut menjadi bagian dari arah pembangunan Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni bersama Wakil Bupati Risnaldi Ibrahim. Program Nagari Kanyang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong peningkatan sektor pertanian di daerah.
Tidak hanya menargetkan produksi gabah, Dinas Pertanian Pesisir Selatan juga membidik pertumbuhan sektor pertanian pada 2026 di atas 10 persen.
Namun, target tersebut harus dihadapkan dengan sejumlah persoalan di lapangan. Salah satunya adalah kondisi infrastruktur pengairan yang belum sepenuhnya mampu mendukung optimalisasi lahan pertanian.
Ketersediaan air menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan musim tanam. Di Pesisir Selatan, terdapat lima bendungan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Selain itu, sekitar 40 bendungan berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Hamdi mengatakan kondisi sejumlah infrastruktur pengairan tersebut masih menjadi tantangan bagi sektor pertanian.
“Kalau kita lihat kondisinya, sekitar 60 persen mengalami kerusakan. Ini tentu menjadi tantangan karena air sangat menentukan keberhasilan musim tanam,” tuturnya.