Sejumlah aspek yang menjadi perhatian antara lain inovasi desain, pemenuhan standar kemasan, serta penggunaan teknologi dalam pemasaran digital. Ketiga hal tersebut menjadi bagian dari upaya agar produk sulam dan anyam Payakumbuh dapat mengikuti kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Dengan demikian, hasil pelatihan tidak berhenti sebagai pengetahuan bagi para peserta. Inovasi yang diperoleh diharapkan dapat terlihat dalam produk yang dihasilkan sekaligus memperluas jangkauan pemasaran kriya lokal Payakumbuh.
Penutupan Kriyasi Sesi 2 juga dihadiri Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Direktorat Kriya Kemenekraf/Bekraf RI, Yuke Sri Rahayu. Ia memberikan apresiasi terhadap antusiasme para perajin serta dukungan yang diberikan jajaran Pemerintah Kota Payakumbuh.
Yuke menegaskan pemerintah pusat memiliki komitmen untuk terus mengawal perkembangan ekosistem kriya di berbagai daerah. Pengembangan tersebut diarahkan agar produk kriya daerah memiliki kemampuan bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional.
"Melalui pendampingan Sesi 2 ini, kami berpesan agar perajin Payakumbuh tidak ragu mengeksplorasi ide-ide baru, namun tetap mempertahankan identitas kearifan lokalnya. Itulah kekuatan utama kriya kita untuk menghadapi tantangan tren pasar global," papar Yuke.
Program Kriyasi Sesi 2 sendiri telah berlangsung sejak 22 September 2026. Pelaksanaan tersebut merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang digelar pada Agustus lalu.
Rangkaian pendampingan menjadi ruang bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan produk sulam dan anyam dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Di sisi lain, identitas kearifan lokal tetap menjadi bagian yang harus dipertahankan dalam proses inovasi tersebut.
Rangkaian Kriyasi Sesi 2 kemudian ditutup dengan penyerahan hasil karya inovasi dari para peserta pendampingan. Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai penanda berakhirnya rangkaian pendampingan.