Selanjutnya, tanaman tersebut akan dipelihara di lingkungan kantor masing-masing. Dengan pola tersebut, lahan yang selama ini tidak digunakan untuk kegiatan produksi pangan dapat dimanfaatkan untuk menanam komoditas yang dibutuhkan masyarakat.
Rida mengatakan, kegiatan itu tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan panen dalam jumlah besar. Lebih dari itu, gerakan Petani Berdasi diharapkan memberikan contoh kepada masyarakat bahwa kegiatan menanam dapat dilakukan dari lingkungan yang sederhana.
"Satu polybag adalah simbol. Ketika masyarakat melihat ASN mau turun tangan menanam, akan muncul kesadaran kolektif: 'Kalau ASN saja mau menanam, kita di rumah pasti bisa.' Kita tidak semata mengejar volume panen, melainkan membangun mentalitas kemandirian pangan," urainya.
Dukungan terhadap program Petani Berdasi juga datang dari Kementan RI. Kepala Puslatan Kementan RI Dr. Tedy Dirhamsyah mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemko Payakumbuh tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Tedy memberikan penguatan kapasitas teknis kepada ASN melalui materi bertajuk "Urban Farming dalam Upaya Pemenuhan Pangan dan Peningkatan Pendapatan Keluarga".
Materi tersebut memperkenalkan sejumlah metode bercocok tanam yang dapat diterapkan pada lahan terbatas. Beberapa di antaranya yakni hidroponik, vertikultur, serta pemanfaatan polybag.
Menurut Tedy, metode urban farming memungkinkan pekarangan rumah maupun kantor dimanfaatkan sebagai lahan produktif. Pemanfaatan lahan tersebut dinilai relevan di tengah ancaman krisis iklim global.
Selain menghasilkan bahan pangan, urban farming juga berkaitan dengan pengeluaran rumah tangga. Tedy menyebut kebutuhan pangan menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar bagi keluarga.