Standardisasi menjadi bagian penting untuk memastikan produk yang dikembangkan tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat. Beberapa potensi risiko yang perlu diantisipasi antara lain mikroorganisme, aflatoksin, dan Salmonella.
Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam proses hilirisasi. Perguruan tinggi dapat menghadirkan teknologi yang membantu meningkatkan daya tahan produk, tetapi tetap memastikan aspek keamanan pangan melalui pengujian yang didasarkan pada bukti ilmiah.
Siapkan Dukungan Riset dan Hilirisasi
Wakil Rektor I Unand Prof. Syukri Arief mengatakan kampus memiliki berbagai sumber daya yang dapat digunakan untuk mendukung pengembangan produk pangan dan pelaku usaha. Dukungan tersebut mencakup keberadaan fakultas, program studi, pusat riset pangan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Direktorat Hilirisasi, hingga Science Techno Park.
Berbagai fasilitas dan kepakaran tersebut dapat dimanfaatkan dalam bentuk riset, pelatihan, maupun pendampingan bagi pelaku usaha. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu produk gastronomi berkembang dari sisi kualitas sekaligus daya saing.
“Dengan kepakaran yang dimiliki, Unand dapat mendorong pengembangan produk agar semakin berkualitas dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Dukungan akademik tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan pelaku usaha dengan kapasitas riset dan teknologi yang tersedia di perguruan tinggi. Dengan pola kolaborasi ABG, pengembangan rendang tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemenuhan standar produk.
Pengusaha Rendang Hadapi Tantangan Kapasitas Produksi
Dari sisi dunia usaha, Ketua Hipermi Rina menyampaikan organisasinya kini memiliki sekitar 400 anggota. Para anggota tersebut tersebar di Sumatera Barat (Sumbar) maupun di luar daerah.
Besarnya jumlah pelaku usaha tersebut menunjukkan adanya basis usaha rendang yang dapat terus dikembangkan. Meski demikian, peningkatan kapasitas produksi masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi.