Pengerahan armada disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan. OMC juga terus diupayakan pada wilayah serta waktu yang memenuhi kondisi meteorologis. Operasi tersebut diarahkan untuk membantu pembasahan lahan sekaligus mendukung pengendalian karhutla.
Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap titik panas dan kondisi api. Pemerintah juga memantau kualitas udara berdasarkan parameter PM2,5.
Pada 6 September, kondisi kualitas udara tercatat bervariasi. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, pada sebagian area ditemukan kondisi dengan kategori berbahaya.
Di sisi lain, sebagian besar wilayah Indonesia lainnya berada dalam kategori baik hingga sedang.
Kondisi asap juga menjadi bagian dari pemantauan cuaca penerbangan. Berdasarkan pemantauan BMKG pada malam 6 September, jarak pandang di sejumlah kota dalam enam provinsi prioritas menunjukkan kondisi berbeda.
Di Palembang, jarak pandang mencapai 10 kilometer atau lebih dengan kondisi berawan. Jambi mencatat jarak pandang sekitar 7 kilometer dengan kondisi berawan. Sementara Pekanbaru memiliki jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi cerah berawan.
Di tiga kota lainnya, Pontianak mencatat jarak pandang sekitar 2 kilometer dalam kondisi berasap. Palangka Raya memiliki jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi berawan. Sedangkan Banjarmasin sekitar 9 kilometer dengan kondisi cerah berawan.