Katupek Ketan Deni Laris di Tengah Keramaian 20 Ribu Jemaah BKMT Padang Panjang

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Senin, 7 September 2026 | 14:04 WIB
 Keramaian kegiatan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Sumatera Barat di Masjid Agung Manarul ‘Ilmi Islamic Centre Padang Panjang, Minggu (6/9/2026), ternyata membuka peluang bagi ratusan pedagang. (Foto: Pemko Padang Panjang)
Keramaian kegiatan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Sumatera Barat di Masjid Agung Manarul ‘Ilmi Islamic Centre Padang Panjang, Minggu (6/9/2026), ternyata membuka peluang bagi ratusan pedagang. (Foto: Pemko Padang Panjang)


Sumbardaily.com - Keramaian kegiatan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Sumatera Barat di Masjid Agung Manarul ‘Ilmi Islamic Centre Padang Panjang, Minggu (6/9/2026), ternyata membuka peluang bagi ratusan pedagang. Di tengah kedatangan sekitar 20 ribu jemaah, aktivitas perdagangan ikut bergerak sejak pagi.





Sejak subuh, pelataran Islamic Centre Padang Panjang mulai dipenuhi lapak pedagang. Mereka datang membawa berbagai jenis barang untuk ditawarkan kepada jemaah yang menghadiri rangkaian kegiatan keagamaan tersebut.





Produk yang dijual cukup beragam. Mulai dari makanan dan minuman, kuliner tradisional, pakaian muslim, perlengkapan ibadah, sayur-mayur, peralatan rumah tangga, perlengkapan berkebun, hingga berbagai produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).





Jumlah jemaah yang datang dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat membuat aktivitas jual beli berlangsung hampir di setiap sudut pelataran Islamic Centre. Sebagian pedagang mengaku dagangan mereka mendapat respons dari peserta kegiatan.





Salah satunya Deni, pedagang ketupat ketan asal Pitalah, Kabupaten Tanah Datar. Ia memilih membawa makanan tradisional tersebut karena melihat masih sedikit pedagang yang menawarkan jenis dagangan serupa.





Keputusan itu membawa hasil. Katupek ketan yang dijual Deni mendapat perhatian dari jemaah, terutama kaum ibu yang menghadiri kegiatan BKMT. Ia melihat makanan tersebut memiliki pasar tersendiri di tengah kerumunan peserta.





“Saya memilih jualan ini karena tidak banyak yang jualan dagangan yang saya bikin. Terlebih lagi para ibu-ibu jemaah banyak menyukai katupek ketan ini. Kita ketahui para ibu-ibu ini banyak yang lansia, makanya saya jualan yang tidak dijual orang lain,” katanya.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X