BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut. Masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir juga diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca maritim.
Informasi tersebut dapat dipantau melalui berbagai kanal yang disediakan BMKG. Masyarakat dapat mengakses pembaruan melalui situs maritim BMKG maupun media sosial resmi BMKG Maritim.
Dalam informasi tersebut, BMKG mencantumkan layanan call center yang dapat dihubungi masyarakat. Nomor yang tersedia yakni 021-6546315/18 dan layanan call center BMKG 196.
Masyarakat juga dapat memperoleh informasi melalui situs https://maritim.bmkg.go.id serta mengikuti akun Twitter dan Instagram @BMKGmaritim. Jika membutuhkan informasi secara langsung, masyarakat dapat menghubungi kantor BMKG terdekat.
Potensi banjir pesisir ini tidak hanya terjadi di Sumatera Barat. Dalam daftar wilayah yang disampaikan Direktorat Meteorologi Maritim, potensi banjir pesisir juga mencakup pesisir Aceh, pesisir Sumatera Utara, pesisir Riau, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Jambi, pesisir DKI Jakarta, pesisir Jawa Barat, pesisir Jawa Tengah, dan pesisir Jawa Timur.
Wilayah lainnya yang masuk dalam daftar yakni pesisir Bali, pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Nusa Tenggara Timur, pesisir Kalimantan Utara, pesisir Kalimantan Selatan, pesisir Kalimantan Tengah, pesisir Kalimantan Barat, serta pesisir Maluku.
Informasi potensi banjir pesisir tersebut diterbitkan oleh Direktorat Meteorologi Maritim di Jakarta pada 4 September 2026. Peringatan itu disampaikan sebagai bahan antisipasi terhadap kemungkinan dampak pasang maksimum air laut.
Fenomena fase perigee pada 7 September 2026 menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam informasi tersebut. Perigee merupakan fase ketika posisi bulan berada pada jarak tertentu yang dapat berpengaruh terhadap kondisi pasang surut. Selain itu, fase bulan baru yang berlangsung pada 11 September 2026 juga disebut berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum.