Seluruh wilayah cakupan IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi secara bulanan. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang dan Kota Bukittinggi.
Pasaman Barat mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,46 persen. Kota Padang berada di posisi terendah dengan inflasi 0,10 persen.
Sementara itu, Kota Bukittinggi mencatat inflasi 0,20 persen dan Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,11 persen.
Jika dibandingkan dengan kondisi setahun sebelumnya, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum dengan andil 1,44 persen.
Seluruh wilayah cakupan IHK juga mengalami inflasi secara tahunan. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi y-on-y tertinggi sebesar 4,34 persen.
Pasaman Barat mengalami inflasi tahunan 4,11 persen, disusul Kota Bukittinggi sebesar 3,78 persen. Sementara Kota Padang mencatat angka terendah, yakni 3,55 persen.
Dari rangkaian angka tersebut, wajah pariwisata Sumatera Barat pada Juli 2026 terlihat tidak bergerak dalam satu arah. Kunjungan wisatawan mancanegara melalui BIM memang menurun, tetapi perjalanan wisatawan nusantara justru meningkat menjadi 2,15 juta perjalanan.
Pada saat yang sama, tingkat penghunian kamar hotel mengalami penurunan, baik pada hotel bintang maupun nonbintang. Pergerakan sektor pariwisata itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya Nilai Tukar Petani Sumatera Barat menjadi 133,37 dan inflasi tahunan yang mencapai 3,76 persen.