Sumbardaily.com - Menanam pohon sering kali menjadi langkah awal dalam kegiatan penghijauan. Namun, persoalan lingkungan tidak selesai ketika bibit telah masuk ke tanah. Pohon harus bertahan hidup, dirawat, dipantau dan tumbuh agar manfaat ekologisnya benar-benar dirasakan.
Gagasan itulah yang menjadi dasar gerakan Adopsi Pohon Selamatkan DAS Sianok. Gerakan tersebut mendorong masyarakat tidak sekadar berkontribusi dalam penyediaan bibit untuk reboisasi, tetapi ikut memiliki keterikatan dengan pohon yang ditanam di kawasan hulu.
Gerakan ini digagas Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Sumatera Barat (METI Sumbar), Kelompok Pecinta Alam (KPA) Al-Kahfi Bukittinggi, Himpunan Mahasiswa Magister Komunikasi (HIMASTER) Universitas Andalas (Unand) bersama sejumlah komunitas dan organisasi lingkungan lainnya.
Konsep tersebut akan diperkenalkan dalam kegiatan Api Unggun Fun Camp, Reboisasi dan Adopsi Pohon yang direncanakan berlangsung pada tanggal 20 hingga 22 November 2026 di Nagari Sipinang, Jorong Paraman, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari peringatan satu tahun bencana ekologis yang melanda Sumatra Barat pada akhir November 2025 lalu.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) METI Sumbar, Muhammad Fauzi mengatakan, gagasan adopsi pohon muncul dari kebutuhan untuk mengubah pola kegiatan penghijauan yang selama ini kerap berhenti pada penanaman.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya datang, menanam pohon, kemudian selesai. Pohon itu harus dirawat dan dipantau sampai tumbuh. Karena itu kita ingin memperkenalkan konsep adopsi pohon untuk menyelamatkan DAS Sianok,” katanya, Jumat (28/8/2026) via keterangan tertulis.