Ketua Pelaksana Gebyar PAUD Elfriza Zaharman mengatakan rangkaian kegiatan dirancang agar anak, tenaga pendidik, dan orang tua dapat terlibat secara langsung.
Sejumlah kegiatan yang digelar antara lain jalan santai, senam bersama, unjuk bakat siswa, serta lomba tarik tambang yang mempertemukan guru dan orang tua.
Menurut Elfriza, aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. Kegiatan bersama juga dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan diri dan kreativitas sekaligus mengenalkan nilai nasionalisme sejak usia dini.
“Melalui suasana yang menyenangkan ini, kami ingin menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, serta nilai-nilai nasionalisme sejak dini. Keterlibatan aktif orang tua dalam acara ini sekaligus memperkuat kemitraan antara keluarga dan satuan pendidikan,” kata perempuan yang akrab disapa Chece itu.
Penguatan PAUD Payakumbuh kemudian ditempatkan dalam kerangka kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun. Kebijakan tersebut menempatkan satu tahun pendidikan prasekolah sebagai bagian dari upaya memberikan fondasi pendidikan kepada anak sebelum memasuki sekolah dasar.
Dengan arah tersebut, pemerintah kota mendorong agar anak-anak di Payakumbuh memperoleh kesempatan mengikuti PAUD sebelum masuk SD. Pemenuhan layanan pendidikan prasekolah juga berjalan bersama perhatian terhadap hak anak, kesehatan, gizi seimbang, pencegahan stunting, perlindungan, serta ruang bagi anak untuk bermain dan berinteraksi secara langsung.
Gebyar PAUD se-Kota Payakumbuh menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, satuan pendidikan, pendidik, keluarga, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diarahkan agar pendidikan anak usia dini tidak hanya menjadi tahap sebelum sekolah dasar, tetapi menjadi fondasi bagi tumbuh kembang anak dan persiapan menuju pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun. (*)