"Transformasi pengelolaan sampah harus dimulai dari pemilahan di sumber, bukan hanya peningkatan kualitas TPA. Karena itu, Pemko Padang menggulirkan Padang Rancak Award untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, sekaligus memperkuat Lembaga Pengelola Sampah, bank sampah, serta mengembangkan teknologi Refuse-Derived Fuel dan waste-to-energy," ujar Fadly, dikutip Minggu (9/8/2026).
Data Pemko Padang menunjukkan persoalan sampah di kota tersebut masih cukup besar. Setiap hari, sampah yang dihasilkan Kota Padang mencapai 669 ton.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 73 persen diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir. Kemudian, 26 persen lainnya diolah melalui program 3R atau Reduce, Reuse, Recycle. Sementara itu, masih terdapat 1 persen sampah yang berakhir di pembuangan terbuka.
Angka tersebut menjadi salah satu dasar bagi Pemko Padang untuk mendorong perubahan dalam sistem pengelolaan sampah. Penguatan Lembaga Pengelola Sampah dan bank sampah menjadi bagian dari upaya tersebut, bersamaan dengan pengembangan teknologi RDF dan waste-to-energy.
Persoalan sampah juga dikaitkan dengan kondisi Sungai Batang Arau. Fadly menyebut kawasan sungai tersebut menghadapi pencemaran yang berasal dari limpasan drainase dan limbah domestik.
Karena itu, menurutnya, pemulihan Batang Arau tidak dapat dipisahkan dari upaya menghentikan sampah sejak dari sumber. Penanganan tersebut membutuhkan penguatan infrastruktur sekaligus pemanfaatan teknologi.
Pemko Padang melihat keberhasilan pemulihan Batang Arau memiliki arti lebih luas. Sungai tersebut diharapkan menjadi bagian dari titik kebangkitan kawasan Kota Tua Padang sebagai kawasan wisata yang berkelanjutan.
"Kami meyakini keberhasilan revitalisasi Sungai Batang Arau akan menjadi titik awal kebangkitan kawasan Kota Tua Padang sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Kami berterima kasih atas dukungan penuh dari seluruh mitra internasional dan akademisi," tambah Fadly.