Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNAND, Dr. Elva Ronaning Roem, S.Sos., M.Si., yang mewakili Dekan FISIP UNAND, turut menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan konferensi internasional sekaligus peluncuran buku panduan tersebut.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir yang hadir mewakili Wali Kota Padang Fadly Amran menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap penyelenggaraan AICCON 2026. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan, sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Padang sebagai kota gastronomi dan destinasi wisata di Sumatra.
“Orang akan menguasai dunia ketika dia menguasai komunikasi,” katanya.
Dalam sesi keynote, masing-masing pembicara mengangkat perspektif berbeda mengenai tantangan komunikasi pada era modern.
Prof. Madya Dr. Nik Norma Nik Hasan menyoroti dominasi narasi ekonomi pemerintah yang dinilai sering mengesampingkan persoalan lingkungan. Ia juga menyinggung rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap proyek-proyek besar di negara berkembang, termasuk kasus Lynas.
Sementara itu, Prof. Elske Van De Fliert menekankan pentingnya perubahan sosial yang lahir dari pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, konsep power within menjadi fondasi untuk meningkatkan literasi sekaligus kemampuan berpikir kritis masyarakat di tengah perkembangan era digital.
Perspektif lain disampaikan Prof. Merlyna Lim melalui konsep "simpoiesis komunikatif". Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan komunitas tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga dibangun melalui penciptaan bersama, memori kolektif, serta kepedulian antaranggota komunitas.
Pada penutupan sesi keynote, Prof. Anang Sujoko menyampaikan kritik terhadap pola komunikasi pembangunan di Indonesia. Ia menilai perkembangan digital yang berlangsung cepat justru sering dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi yang ofensif sehingga kritik masyarakat tidak memperoleh ruang yang memadai.