Setelah itu, hewan uji memperoleh intervensi berupa kombinasi tepung kacang lima dan tepung ikan patin selama empat minggu.
Hasil penelitian menunjukkan kombinasi kedua bahan pangan tersebut mampu memperbaiki sejumlah indikator pertumbuhan tulang yang sebelumnya mengalami gangguan akibat kekurangan protein.
Perbaikan terlihat dari struktur lempeng pertumbuhan yang mengalami peningkatan, disertai bertambahnya ketebalan tulang apabila dibandingkan dengan kelompok hewan uji yang tidak memperoleh intervensi.
Meski menghasilkan temuan yang menjanjikan, Rita menegaskan penelitian tersebut masih berada pada tahap praklinis sehingga belum dapat diterapkan secara langsung pada manusia.
"Temuan ini memberikan dasar ilmiah yang menjanjikan, namun masih diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia, untuk memastikan keamanan, efektivitas, serta dosis yang tepat sebelum dapat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi penanganan gangguan pertumbuhan, termasuk yang berkaitan dengan stunting," jelasnya dilansir laman resmi Unand, Rabu (22/7/2026).
Menurut Rita, penggunaan kacang lima dan ikan patin sebagai bahan baku menjadi salah satu nilai lebih dalam penelitian tersebut. Kedua bahan pangan lokal itu memiliki kandungan gizi yang baik sekaligus relatif mudah ditemukan di Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional yang tidak hanya memiliki nilai gizi tinggi, tetapi juga dapat diproduksi dengan biaya yang lebih terjangkau dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Selain menghasilkan inovasi di bidang pangan, penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi tersebut mencakup SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pengembangan pangan berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.