Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tanaman tersebut dalam ransum mampu meningkatkan konsumsi bahan kering, meningkatkan konsumsi protein, serta memperbaiki kadar lemak susu tanpa menurunkan produksi susu yang dihasilkan ternak.
Penelitian lanjutan yang mengombinasikan tithonia dengan bungkil inti sawit, konsentrat, dan daun katuk memberikan hasil yang lebih menggembirakan.
Produksi susu kambing meningkat dari sekitar 859 mililiter menjadi lebih dari 1.061 mililiter per ekor per hari. Tidak hanya itu, kualitas susu juga mengalami peningkatan yang ditandai dengan bertambahnya kandungan asam amino esensial, seperti lisin dan leusin.
Roni menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas tersebut merupakan hasil dari formulasi ransum yang seimbang. Dalam komposisi tersebut, tithonia berperan sebagai sumber hijauan sekaligus sumber protein, sedangkan bahan pakan lainnya berfungsi memenuhi kebutuhan energi serta menyediakan senyawa bioaktif yang mendukung proses laktasi pada kambing perah.
Oleh sebab itu, penerapan hasil penelitian di tingkat peternak perlu dilakukan secara bertahap. Penggunaan tithonia disarankan tetap dikombinasikan dengan hijauan lain serta sumber energi tambahan agar keseimbangan nutrisi tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Hasil penelitian ini membuka perspektif baru terhadap keberadaan Tanaman Tithonia yang selama ini identik sebagai gulma. Dengan kandungan protein yang tinggi dan potensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien, tanaman tersebut kini dipandang sebagai salah satu sumber protein lokal yang berpeluang memperkuat kemandirian pakan ternak.
Selain mendukung peningkatan produktivitas kambing perah, pemanfaatan Tanaman Tithonia juga berpotensi membantu peternak menekan biaya produksi melalui penggunaan bahan pakan lokal yang mudah diperoleh.