Berdasarkan hasil riset yang dilakukannya, sekitar sepertiga remaja putri di salah satu wilayah Sumatera Barat masih mengalami gizi kurang. Selain itu, hampir 20 persen remaja putri memiliki asupan protein yang belum memenuhi kebutuhan harian.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi berlanjut hingga masa kehamilan apabila tidak segera mendapatkan perhatian. Dampaknya tidak hanya meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada ibu, tetapi juga memengaruhi kualitas kesehatan bayi yang akan dilahirkan.
Prof. Azrimaidaliza juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan energi dan protein selama masa kehamilan. Berdasarkan hasil penelitian kohort yang dilakukannya, ibu hamil dengan asupan energi kurang dari 1.800 kkal per hari memiliki risiko 1,7 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat lahir di bawah 3 kilogram.
Selain itu, ibu hamil yang mengonsumsi protein kurang dari 65 gram per hari memiliki risiko hingga 3,6 kali lebih besar melahirkan bayi dengan panjang lahir kurang dari 48 sentimeter.
Di sisi lain, ketahanan pangan keluarga juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pesisir Selatan menunjukkan lebih dari separuh ibu hamil berada dalam kondisi rawan pangan. Situasi tersebut berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi keluarga.
Menurut Prof. Azrimaidaliza, kondisi rawan pangan tersebut berpotensi meningkatkan risiko anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ibu, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas kesehatan bayi yang dilahirkan.
Ia menegaskan bahwa investasi terbaik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah memastikan setiap perempuan memasuki masa kehamilan dengan status gizi yang baik.
"Perbaikan gizi sejak remaja hingga masa kehamilan menjadi strategi penting untuk memutus rantai masalah gizi antargenerasi sekaligus mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tumbuh optimal, dan bebas stunting sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045," ujar Prof. Azrimaidaliza.