Dalam kesempatan tersebut, Agustina menegaskan bahwa kualitas pelayanan kesehatan dasar sangat bergantung pada ketepatan penyusunan dan pelaporan RKO oleh petugas farmasi puskesmas. Ia menyebut akurasi data kebutuhan obat sebagai salah satu fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan layanan kesehatan bagi masyarakat.
"Akurasi perencanaan kebutuhan obat ini tidak boleh main-main. Saya minta kepada seluruh petugas farmasi puskesmas untuk meningkatkan kepatuhan dan ketelitiannya. Jangan sampai pelayanan kepada masyarakat terganggu hanya karena keterlambatan laporan atau salah prediksi kebutuhan. RKO kita harus presisi agar ketersediaan obat selalu terjamin aman dan tepat sasaran," tegas Agustina Rahmadani di hadapan para peserta.
Melalui pelaksanaan bimbingan teknis selama dua hari tersebut, Dinkes PPKB Pesisir Selatan menargetkan terjadinya peningkatan signifikan terhadap indikator kepatuhan pelaporan berbasis digital. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan perencanaan kebutuhan obat yang lebih akurat dan terukur.
Dengan semakin baiknya kualitas pelaporan serta perencanaan obat, sistem pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Kabupaten Pesisir Selatan diharapkan dapat berjalan lebih optimal. Ketersediaan obat yang terjamin juga akan mendukung pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakat di 15 kecamatan, sekaligus meminimalkan risiko gangguan layanan akibat kendala logistik medis.
Melalui penguatan kapasitas petugas farmasi dan peningkatan kepatuhan penyusunan RKO, Dinkes PPKB Pesisir Selatan menunjukkan komitmennya dalam menjaga kualitas pelayanan kesehatan dasar. Perencanaan yang presisi diharapkan menjadi kunci utama dalam memastikan kebutuhan obat masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan dan tepat sasaran. (*)