Ferialdi menuturkan, pertukaran lokasi pelaksanaan tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, pola tersebut merupakan bagian dari tradisi yang telah berlangsung sejak lama untuk menciptakan momentum basalisiah atau perselisihan simbolis antara dua kelompok, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan basalisiah dijadwalkan berlangsung setelah salat Isya atau sekitar pukul 20.00 WIB di Simpang Kampung Cino atau yang dikenal sebagai Simpang Tabuik Pariaman.
“Kegiatan basalisiah kami sudah antisipasi dengan melibatkan pihak keamanan untuk mengamankan kegiatan tersebut. Kami berharap kegiatan tersebut berjalan lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Meski menampilkan suasana perselisihan, Ferialdi menegaskan bahwa basalisiah hanya merupakan bagian dari tradisi budaya yang berlangsung saat perayaan Tabuik.
Menurutnya, inti dari prosesi tersebut adalah menggambarkan bahwa kedua kelompok tetap bersaudara. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dan Tabuik dibuang ke laut, hubungan antara kedua kelompok kembali harmonis tanpa menyisakan dendam.
“Semoga tabuik budaya yang kita hadirkan sekarang bisa menunjang pariwisata Kota Pariaman dan tidak ada sama sekali unsur keagamaan di dalamnya dengan bukti ketika mendekati masuknya waktu sholat kita akan hentikan semua kegiatan dan ketika selesai sholat kita akan lanjutkan kembali prosesi tersebut. Apapun penilaian orang terhadap kegiatan ini yang pasti kita tetap akan melestarikan budaya ini untuk menunjang kepariwisataan kita tanpa ada unsur agama di dalamnya,” tegas Ferialdi.
Pemerintah Kota Pariaman berharap pelaksanaan Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026 tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya daerah, tetapi juga mampu memperkuat daya tarik wisata sehingga semakin banyak wisatawan yang datang untuk menyaksikan tradisi khas yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Pariaman tersebut. (*)