“Saya pernah menjadi petugas haji pada tahun 2018. Setelah pulang dari Tanah Suci, ada sesuatu yang berbeda yang kita rasakan dalam diri. Dulu predikat haji dan hajjah belum kita miliki, tetapi setelah Allah memberikan kesempatan berhaji, predikat itu melekat pada diri kita,” tuturnya.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa gelar haji bukanlah simbol kebanggaan semata, melainkan amanah yang harus dipelihara sepanjang hayat.
“Beban itu memang berat untuk dipikul. Maka kita berdoa kepada Allah SWT agar mampu mempertahankan kemabruran haji dan memperlihatkannya dalam perilaku serta kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Risnaldi, keberhasilan ibadah haji tidak hanya diukur saat seseorang berada di Makkah dan Madinah. Kemabruran justru terlihat ketika nilai kesabaran, keikhlasan, kepedulian, dan kedisiplinan yang diperoleh selama berhaji dapat diwujudkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Semoga bapak dan ibu senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga kemabruran haji ini dan menjadi teladan yang baik bagi keluarga, lingkungan, serta masyarakat,” pungkasnya.
Setelah prosesi penyambutan selesai, rombongan jemaah haji melanjutkan perjalanan menuju Pesisir Selatan, Sijunjung, dan Dharmasraya untuk berkumpul kembali bersama keluarga yang telah lama menanti.
Kepulangan dari Tanah Suci kali ini bukan hanya membawa kenangan dan pengalaman spiritual, tetapi juga membawa amanah baru bagi para jemaah untuk menjaga nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi teladan di tengah masyarakat. (*)