“PDRI adalah penyambung nyawa Indonesia. Kalau tidak ada PDRI, tidak akan ada Indonesia,” tegas Mahyeldi.
Ia menjelaskan bahwa kekayaan sejarah tersebut harus terus dijaga dan diperkuat sebagai identitas utama kota, sekaligus menjadi daya tarik wisata sejarah nasional.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar pun mendukung langkah Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi dalam mengembangkan kawasan bersejarah menjadi destinasi unggulan.
Menurut Mahyeldi, Bukittinggi memiliki rekam jejak sejarah panjang, mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga menjadi ibu kota Sumatera Tengah dan pusat pemerintahan darurat republik.
Seluruh peristiwa penting itu dinilai perlu terdokumentasi secara lebih baik guna memperkuat posisi Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan.
“Dokumen seluruh sejarah dan peristiwa penting di Bukittinggi harus dicatat lebih baik. Itu yang akan mengokohkan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan,” ujarnya.
Selain itu, Mahyeldi juga menyinggung peluang Jam Gadang untuk didorong menuju pengakuan internasional.
Namun, ia menegaskan bahwa saat ini pemerintah masih memprioritaskan penyelesaian pengusulan kawasan Geopark Silokek sebelum melangkah ke tahap berikutnya.