Pada konfigurasi reaktor standar, penelitian ini menghasilkan konversi CO₂ sebesar 70,63% dengan efisiensi energi mencapai 29,41%. Kondisi optimal tersebut diperoleh pada daya plasma 100 W, suhu 350 K, laju aliran gas 0,2 liter per menit, serta waktu tinggal selama 5 detik.
Selain itu, temuan penting lainnya menunjukkan bahwa pemisahan gas hasil reaksi memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja sistem. Dalam hal ini, pemisahan karbon monoksida (CO) terbukti lebih efektif dibandingkan oksigen (O₂) dalam menekan reaksi rekombinasi.
"CO menjadi faktor utama dalam pembentukan kembali CO₂ melalui interaksinya dengan atom oksigen. Oleh karena itu, pengendalian keberadaan CO dalam sistem menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi konversi," ungkapnya.
Orasi ilmiah ini juga mencerminkan latar belakang akademik Ulung yang memiliki pengalaman pendidikan internasional di bidang teknik energi. Ia diketahui meraih gelar Magister dan Doktor dari Gifu University, Jepang, dengan fokus pada kajian energi dan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Universitas Bung Hatta menegaskan komitmennya dalam mengembangkan riset yang relevan dengan isu global. Upaya tersebut sejalan dengan tema Dies Natalis ke-45, yakni “Impactful Campus, Meaningful Future”, yang menekankan pentingnya kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menciptakan masa depan berkelanjutan. (*)