Dalam kegiatan gladi kesiapsiagaan ini, terdapat tiga aspek utama yang menjadi fokus pengujian, yakni ketangkasan personel, kesiapan peralatan, serta koordinasi antarinstansi. Elzadaswarman menekankan pentingnya seluruh peserta untuk menganggap simulasi ini sebagai kondisi nyata.
“Ketajaman insting dan kecepatan koordinasi Saudara akan menjadi tumpuan keselamatan warga Payakumbuh,” katanya.
Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah dalam hal kesiapsiagaan. Menurutnya, setiap keluarga perlu memiliki rencana evakuasi mandiri sebagai langkah awal penyelamatan.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Setelah apel, para peserta langsung mengikuti simulasi penanganan darurat yang melibatkan berbagai peralatan dan kendaraan operasional.
Dalam simulasi tersebut, dikerahkan dua unit ambulans dari Dinas Kesehatan, tiga unit motor trail dan satu armada pemadam kebakaran dari Satpol PP dan Damkar, serta dua unit motor patroli dari Dinas Perhubungan.
Total peserta berasal dari 19 unsur yang terlibat, mulai dari Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh, Basarnas, PMI, Orari, Rapi, hingga Tagana dari Dinas Sosial. Selain itu, Pramuka serta Koordinator Kampung Siaga Bencana (KSB) dari lima kecamatan di Payakumbuh juga turut ambil bagian.
Dari jumlah tersebut, personel terbanyak berasal dari BPBD Kota Payakumbuh sebanyak 33 orang. Disusul Tagana dengan 17 orang, Satpol PP dan Damkar sebanyak 10 orang, serta Pramuka yang juga mengerahkan 10 personel.
Seluruh peserta diwajibkan menggunakan atribut sesuai ketentuan, seperti Pakaian Dinas Lapangan (PDL) maupun kaus berwarna oranye bagi peserta dari KSB.