Pemerintah menyiapkan delapan dapur darurat yang menyediakan bahan pokok mulai dari beras, minyak goreng, hingga kebutuhan makanan lainnya.
Untuk meringankan beban masyarakat, pemerintah daerah juga mendistribusikan 2.000 paket makanan siap saji ke berbagai titik terdampak. Upaya pemenuhan logistik ini dilakukan sembari memetakan kerusakan dan memperkirakan kebutuhan lanjutan dalam masa tanggap darurat yang sedang berjalan.
Penanganan bencana saat ini dilakukan melalui model kolaborasi pentahelix, melibatkan BPBD, Dinas PUPR, Dinas Kesehatan, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya.
Di bawah koordinasi Sekretaris Daerah, seluruh instansi bergerak cepat untuk memperbaiki akses jalan, membersihkan material longsor, dan memastikan layanan dasar tetap berjalan.
Sebelumnya, tim BPBD bersama Satgas TRC PB telah melakukan evakuasi warga dan pendataan kerusakan. Bantuan logistik berupa nasi bungkus telah disalurkan ke para pengungsi.
Dapur umum didirikan bersama Dinas Sosial P3A dan pemerintah nagari guna memenuhi kebutuhan dasar para penyintas banjir dan longsor.
John Kenedy Azis menegaskan bahwa skala kerusakan dan cakupan dampak bencana kali ini tidak dapat ditangani hanya dengan kemampuan APBD. Menurutnya, dukungan pemerintah pusat sangat dibutuhkan, terutama untuk normalisasi Sungai Batang Ulakan yang menjadi salah satu titik rawan banjir.
“Saat ini ada tiga kecamatan terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 80 sentimeter. Kami mohon bantuan dari pemerintah pusat, khususnya Balai Wilayah Sungai (BWS), untuk segera melakukan normalisasi,” katanya.