Suasana Fase VII berubah muram. Aktivitas perdagangan menurun tajam, dan Bofet Garuda kehilangan denyut kehidupannya. Hingga akhirnya, sekitar tahun 2019, setelah bertahan dalam sepi cukup lama, warung yang pernah menjadi ikon kuliner Pasar Raya itu menutup pintu untuk sementara waktu.
Kelahiran Kembali Sang Legenda
Waktu berlalu. Fase VII direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Padang dengan dukungan dana pusat. Gedung yang dulu rusak kini berdiri megah, modern, dan lebih tertata. Dari sinilah babak baru dimulai. Setelah lima tahun vakum, Bofet Garuda kembali hadir, membawa semangat dan cita rasa lama dalam wajah yang lebih segar.
“Setelah lima tahun vakum, kini Bofet Garuda hadir kembali,” ujar Fikru, cucu dari pendiri Bofet Garuda, pada Sabtu (18/10/2025).
Fikru, yang baru berusia 18 tahun, adalah generasi ketiga penerus usaha keluarga itu. Meski masih muda, ia memikul tanggung jawab besar untuk melanjutkan warisan kuliner yang telah dikenal lintas generasi.
“Selama lima tahun terakhir, orangtua mengembangkan usaha di Jakarta. Kini kami pulang kampung untuk melanjutkan kembali tradisi ini,” ujarnya.
Kini, Bofet Garuda tidak lagi berada di lantai dasar seperti dulu. Lokasinya berpindah ke lantai dua Gedung Fase VII, mengikuti kebijakan pemerintah kota untuk menempatkan pedagang kuliner di area atas guna mencegah risiko kebakaran. Meski tempat berubah, aroma dan cita rasanya tetap sama.
Resep yang Tak Berubah, Rasa yang Tetap Sama
“Resepnya tidak berubah, karena yang memasak masih orang yang sama—Vanni, generasi kedua keluarga kami,” tutur Fikru sambil tersenyum. Vanni, sang ibu, kini lebih banyak mengatur produksi dari rumah, sementara Fikru dan tim mudanya mengelola penyajian di lokasi baru.
Harganya tetap terjangkau. Soto Padang dijual Rp20 ribu per porsi, sementara gado-gado, nasi goreng, dan menu lainnya Rp15 ribu. Minuman segar seperti es tebak dibanderol Rp12 ribu. Dengan harga yang bersahabat dan cita rasa yang konsisten, tak heran jika para pelanggan lama kembali berdatangan.