Sumbardaily.com, Padang – Suara langkah kaki terdengar lirih di halaman Masjid Darussalam, Pemancungan, Kelurahan Pasa Gadang, Kota Padang. Di antara tumpukan bantuan dan tenda darurat, seorang perempuan duduk termenung.
Air matanya jatuh tanpa suara, sementara kedua tangannya bergetar memegang selembar plastik berisi bantuan beras. Namanya Rina, ibu dua anak yang kini harus memulai hidup dari awal setelah rumahnya hangus dilalap api.
“Harato abih sadonyo, hanyo baju nan malakek di badan (harta habis semua, yang tersisa hanya baju yang terpasang di badan,” tuturnya lirih.
Semua harta benda lenyap dalam sekejap. Hanya pakaian di tubuhnya yang tersisa. Rina adalah satu dari 121 jiwa yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran hebat yang melanda kawasan padat penduduk di tepi sungai itu. Sebanyak 19 rumah habis terbakar, sementara dua lainnya rusak berat akibat rambatan api.
Detik-detik Api Mengamuk
Kamis pagi, 9 Oktober 2025, menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan Rina. Sekitar pukul 10.00, ia meninggalkan rumah untuk menjemput anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tak ada firasat apa pun ketika ia menutup pintu rumahnya pagi itu. Namun, hanya dalam hitungan jam, seluruh hidupnya berubah.
“Pagi itu ambo pai manjampuik anak (pagi itu saya pergi menjemput anak ke sekolah). Pulang-pulang, rumah sudah api,” kenangnya dengan suara tertahan.
Rina hanya bisa berdiri dari kejauhan, menyaksikan kobaran api menjilat atap rumahnya. Ia ingin masuk menyelamatkan barang-barang berharga, tapi dinding api sudah terlalu dekat.