Menurut Trimurti, produk sayuran secara periodik disemprot dengan pestisida sintetik setiap sekali seminggu atau saat musim hujan sekali dalam tiga hari.
Baca Juga:
Ganggu Pengguna Jalan, Belasan Pengemis dan Anjal Ditertibkan Satpol PP Padang
Setelah dilakukan cek labor, kadar cemaran pestisida sangat tinggi. Trimurti mencontohkan, salah satu cemaran pestisida tinggi itu ada pada caisim.
“Caisim itu kadar ambang batas layak konsumsi pestisida Profenofos 0,005 ppm. Kita ketemu kadar pestisidanya 0,026 ppm. Empat kali lipat lebih tinggi,” sebut Trimurti.
Yang lebih mengejutkan, ujar Trimurti, tanah yang digunakan untuk menanam produk sayuran tersebut mengandung pestisida lebih tinggi.
“Kadar pestisida Profenofosnya sampai 0,097 ppm. Terjadi karena setiap sayuran disemprot dengan pestisida, otomatis tanah itu akan kena terus,” kata Trimurti.
Trimurti mengatakan, tingginya kadar pestisida sintetik pada tanah akan merusak biologi tanah dan mengganggu proses perombakan bahan organik dalam tanah.
“Selain itu kalau produk sayuran mengandung pestisida itu terkonsumsi, tidak bisa terombak oleh tubuh manusia. Terakumulasi dalam lemak-lemak tubuh. Semakin lama akan menjadi biang kanker,” ungkap Trimurti.