Meski telah menemukan pangsa pasar yang sesuai dan mau menerima sayuran sehat bersertifikat prima 3 seperti rumah sakit, restoran, dan retail, namun proses pembinaan yang dilakukan pada tahun itu juga menemukan masalah.
Salah satunya, sayuran sehat bersertifikat prima 3 harus tersedia dalam jumlah yang banyak dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Tim Peneliti BRIN Kembangkan Bahan Ajar Profil Pelajar Pancasila Berbasis Kaba
Permintaan dalam jumlah yang banyak dan berkelanjutan ini tidak bisa terpenuhi hanya dengan Kelompok Tani Baramban. Sehingga butuh beberapa kelompok tani kerja bersertifikat prima 3 lainnya.
“Makanya kami berikan pelatihan ini untuk penyamaan persepsi petani bersertifikat prima 3 yang telah teregistrasi lahannya,” sebut Welya.
Lebih lanjut Welya menyampaikan, para petani yang mengikuti pelatihan ingin menerima langsung uang penjualan sayuran bersertifikat prima 3 saat panen.
Sementara pangsa pasar tidak bisa memenuhi sistem pembayaran tersebut. Mengatasi persoalan itu, ungkap Welya, solusi yang dipilih adalah sistem pemasaran dikelola oleh Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag).