Di sinilah letak kecerdikan slogan tersebut.
KPK tidak sekadar menawarkan tiga nilai moral, melainkan sebuah jalan cerita tentang bagaimana seseorang seharusnya menjadi warga negara yang baik.
Pilihan itu sesungguhnya sejalan dengan visi misi KPK sendiri. Sejak awal pembentukannya, KPK diberi tugas mencegah korupsi melalui pendidikan masyarakat, pembangunan budaya integritas, serta perbaikan sistem tata kelola. Dalam bahasa yang lebih sederhana, KPK tidak hanya ingin menciptakan rasa takut terhadap hukuman, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk bersikap benar.
Dalam kerangka itulah slogan "Berani Jujur Hebat!" menemukan relevansinya. KPK tampaknya ingin menyampaikan bahwa pemberantasan korupsi tidak dimulai di ruang sidang atau operasi tangkap tangan, melainkan dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat individu setiap hari, seperti menolak suap, tidak memanipulasi laporan, tidak menyalahgunakan jabatan, dan berani mengatakan tidak terhadap praktik yang dianggap biasa.
Menariknya, urutan tiga kata tanpa koma itu juga menyerupai teori perubahan yang ingin dibangun KPK. Keberanian melahirkan kejujuran, kejujuran membangun integritas, dan integritas pada akhirnya menghasilkan masyarakat yang lebih baik. Dengan kata lain, slogan tersebut bukan sekadar pesan komunikasi, melainkan ringkasan filosofis mengenai cara KPK mengilustrasikan pemberantasan korupsi bekerja.
Namun di sinilah pula letak keterbatasannya! Ketika slogan menempatkan keberanian individu sebagai titik awal perubahan, korupsi berisiko dipahami terutama sebagai persoalan moral personal, yakni orang korup karena tidak cukup berani untuk jujur. Padahal mandat KPK sendiri jauh lebih luas daripada itu. KPK juga bertugas memperbaiki sistem, memperkuat pengawasan, menutup celah penyalahgunaan wewenang, serta membangun tata kelola yang tidak memberi ruang bagi korupsi untuk tumbuh.
Di sisi lain, keberhasilan retoris itu sekaligus membawa konsekuensi tertentu dalam cara publik memahami korupsi, lho!
Jika keberanian diposisikan sebagai syarat kejujuran, (boleh jadi) korupsi secara tidak langsung dipahami sebagai persoalan keberanian moral individu. Orang korup dianggap tidak cukup berani untuk bersikap jujur!