Sepertinya, dalam kasus ini, ketiadaan koma bukan sekadar pilihan estetika, melainkan perangkat retoris yang mengubah tiga kata menjadi sebuah narasi moral yang mudah diinternalisasi masyarakat.
Tanpa koma, slogan tersebut memiliki alur cerita.
Pertama, seseorang harus memiliki keberanian.
Kedua, keberanian itu diwujudkan dalam kejujuran.
Ketiga, keberanian untuk jujur itulah yang menjadikan seseorang hebat.
Cerita seperti ini jauh lebih mudah diingat dibandingkan daftar nilai.
Manusia pada dasarnya lebih mudah mengingat cerita daripada inventarisasi sifat-sifat baik. Kita mungkin lupa isi pasal-pasal hukum, tetapi kita cenderung mengingat sebuah kisah, bahkan ketika kisah itu hanya terdiri dari tiga kata.