Cara pandang ini tentu penting, tetapi tidak sepenuhnya lengkap.
Korupsi tidak hanya lahir dari kelemahan karakter pribadi. Korupsi juga bisa tumbuh dari sistem pengawasan yang lemah, konflik kepentingan, budaya organisasi yang permisif, hingga tata kelola yang buruk, kan?
Seseorang yang jujur dapat saja bekerja di dalam sistem yang justru menghukum kejujuran itu sendiri. Ini racunnya!
Tidak sedikit berita pelapor pelanggaran menghadapi tekanan, mutasi jabatan, intimidasi, bahkan pengucilan sosial. Dalam situasi seperti itu, hubungan antara keberanian, kejujuran, dan kehebatan tidak selalu berjalan seindah slogan.
Kadang-kadang urutannya justru menjadi berani, jujur, be-risiko!
Namun mungkin memang bukan tugas slogan untuk menjelaskan seluruh kerumitan dunia nyata, bukan? (*)
Penulis Muhardis (Pemerhati Bahasa)