Dalam tata bahasa Indonesia, tanda baca koma digunakan untuk memisahkan unsur-unsur yang setara dalam sebuah deret. Jika slogan itu ditulis menjadi "Berani, Jujur, Hebat!", masyarakat kemungkinan akan membacanya sebagai daftar tiga sifat baik yang berdiri sendiri, yaitu berani itu baik, jujur itu baik, dan hebat juga baik.
Tidak ada hubungan khusus di antara ketiganya.
Namun ketika koma dihilangkan, cara masyarakat membaca slogan itu bisa saja ikut berubah.
Tanpa sadar, boleh jadi pembaca mulai menyusun hubungan antarkata tersebut, seperti berani untuk jujur adalah hebat.
Kalimat itu tidak pernah ditulis oleh KPK. Akan tetapi, hampir semua orang kemungkinan sampai pada kesimpulan yang sama.
Inilah cara kerja bahasa slogan.
Slogan tidak bekerja seperti bahasa undang-undang atau bahasa birokrasi yang berusaha menjelaskan segala sesuatu secara lengkap. Bahasa slogan justru bekerja melalui penghilangan, misalnya menghilangkan subjek, prediket, bahkan menghilangkan tanda baca.
Yang tidak ditulis sering kali sama pentingnya dengan yang ditulis.